Pertandingan sengit antara Persebaya Surabaya dan Persib Bandung di Stadion Gelora Bung Tomo, Senin (2/3/2026), berakhir imbang 2-2. Namun, yang jadi sorotan bukan hanya hasil skor, melainkan jumlah pergantian pemain yang dilakukan Persib. Tim berjuluk Maung Bandung itu melakukan total enam pergantian, satu kali lebih banyak dari batas normal. Meski begitu, Persib tidak mendapat sanksi walk-over (WO). Lantas, apa alasannya?
Regulasi terbaru dari Super League 2025-2026 ternyata memberikan pengecualian untuk kasus tertentu. Salah satunya adalah ketika terjadi cedera kepala atau dugaan gegar otak pada pemain. Dalam pertandingan tersebut, insiden benturan keras antara Catur (Persebaya) dan Federico Barba (Persib) di menit ke-64 memicu penerapan protokol cedera kepala. Akibatnya, kedua tim berhak melakukan pergantian pemain tambahan di luar kuota reguler.
Regulasi Pergantian Pemain di Super League 2025-2026
Aturan standar pergantian pemain di kompetisi ini mengacu pada Pasal 47 poin 1, yang membatasi jumlah pergantian maksimal lima kali per pertandingan. Namun, ada pengecualian penting yang dirumuskan dalam poin 2c Pasal yang sama. Pengecualian ini mengacu pada regulasi global dari International Football Association Board (IFAB) dalam edisi Law of the Game (LOTG) 2025-2026.
1. Protokol Tambahan untuk Pergantian Pemain Gegar Otak
Sejak 2 Maret 2024, IFAB mengesahkan protokol tambahan yang mengizinkan pergantian pemain di luar kuota reguler jika terjadi cedera kepala. Protokol ini dirancang untuk melindungi pemain yang mengalami dugaan gegar otak agar tidak dipaksakan melanjutkan pertandingan.
2. Pergantian Tidak Dihitung dalam Kuota Normal
Penting dicatat bahwa pergantian yang dilakukan karena protokol ini tidak mengurangi jumlah pergantian reguler. Artinya, tim tetap bisa menggunakan lima pergantian normal, plus satu tambahan jika ada insiden cedera kepala.
Insiden Catur dan Federico Barba
Benturan keras antara Catur dan Federico Barba di menit ke-64 menjadi titik balik dalam pertandingan. Catur mengalami luka di kepala dan harus segera diperiksa tim medis. Wasit pun memberikan waktu untuk perawatan, dan Catur akhirnya ditarik keluar.
1. Penerapan Protokol Cedera Kepala
Setelah insiden itu, protokol cedera kepala diterapkan. Baik Persebaya maupun Persib berhak melakukan pergantian tambahan. Persib memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan pergantian keenam, yang pada kondisi normal akan dianggap pelanggaran.
2. Kedua Tim Berhak Sama
Protokol ini juga memberikan hak yang sama kepada tim lawan. Jika salah satu tim menggunakan pergantian tambahan karena cedera kepala, tim lawan juga bisa melakukannya. Ini menjaga keseimbangan kompetitif dan mencegah salah satu pihak dirugikan.
Penjelasan Resmi dari Operator Liga
Operator Super League 2025-2026, I.League, mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden tersebut. Dalam pernyataannya, disebutkan bahwa pergantian keenam oleh Persib tidak melanggar aturan karena dilakukan sesuai protokol cedera kepala yang berlaku.
1. Kesesuaian dengan Law of the Game (LOTG)
Pernyataan itu menegaskan bahwa regulasi Super League mengacu langsung pada edisi terbaru LOTG dari IFAB. Dalam dokumen tersebut, pergantian pemain tambahan karena cedera kepala secara eksplisit diizinkan tanpa mengurangi kuota pergantian reguler.
2. Prioritas Keselamatan Pemain
Tujuan utama dari protokol ini adalah menjaga keselamatan dan kesehatan pemain. Sepak bola modern semakin memperhatikan aspek kesejahteraan atlet, terutama dalam kasus cedera serius seperti gegar otak.
Perkembangan Regulasi Pergantian Pemain
Regulasi pergantian pemain terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Dulu, di Liga 1 2021-2022, hanya boleh ada lima pergantian pemain dalam tiga waktu pergantian. Namun, seiring berkembangnya pemahaman tentang risiko cedera, aturan pun disesuaikan.
1. Fleksibilitas yang Lebih Besar
Sekarang, fleksibilitas dalam pergantian pemain meningkat, terutama untuk kasus darurat seperti cedera kepala. Ini memberikan ruang lebih besar bagi pelatih untuk mengambil keputusan tanpa harus khawatir kehilangan pemain penting akibat cedera yang tidak ditangani dengan baik.
2. Perlindungan Terhadap Pemain Muda
Protokol ini juga memberikan perlindungan khusus bagi pemain muda yang rentan terhadap dampak cedera kepala. Dengan adanya aturan ini, tim tidak akan ragu untuk mengganti pemain yang mengalami benturan keras.
Perbandingan Aturan Pergantian Pemain
Berikut adalah perbandingan antara regulasi pergantian pemain normal dan yang berlaku saat terjadi cedera kepala:
| Aspek | Pergantian Normal | Pergantian Karena Cedera Kepala |
|---|---|---|
| Jumlah maksimal | 5 kali | 1 kali tambahan (luar kuota) |
| Waktu pelaksanaan | Dalam 3 waktu pergantian | Kapan saja saat insiden terjadi |
| Pengaruh terhadap kuota reguler | Ya, mengurangi kuota | Tidak, di luar kuota |
| Hak tim lawan | Tidak ada | Berhak melakukan pergantian tambahan juga |
Kesimpulan
Insiden dalam pertandingan Persebaya vs Persib menjadi contoh penerapan protokol cedera kepala yang efektif. Persib Bandung tidak dikenai sanksi WO karena pergantian keenamnya dilakukan sesuai regulasi yang berlaku. Ini menunjukkan bahwa Super League 2025-2026 mengacu pada standar global yang mengedepankan keselamatan pemain.
Dengan adanya protokol ini, kompetisi menjadi lebih adil dan manusiawi. Pelatih bisa lebih leluasa dalam mengambil keputusan, sementara pemain yang mengalami cedera serius bisa langsung mendapat perawatan tanpa harus dipaksakan bertanding.
Disclaimer: Aturan dan regulasi yang disebutkan dalam artikel ini berdasarkan informasi terkini per Maret 2026. Data bisa berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan regulasi dari IFAB atau kebijakan operator liga.