Keputusan Pramac Racing untuk meninggalkan Ducati dan beralih ke Yamaha kembali jadi bahan pembicaraan usai performa buruk di MotoGP Thailand 2026. Dua musim lalu, tim ini mencuri perhatian dengan gelar juara dunia yang diraih Jorge Martin. Kini, mereka justru kesulitan menembus posisi depan.
Di seri pembuka musim 2026 di Sirkuit Buriram, Jack Miller dan Toprak Razgatlioglu hanya finis di posisi 17 dan 18. Hasil itu memperjelas bahwa transisi ke Yamaha belum memberikan efek positif yang diharapkan. Malah, tren penurunan performa terus berlanjut sejak musim lalu.
Kondisi Pramac Pasca-Ducati
Setelah sukses besar bersama Ducati pada 2024, Pramac memilih berpindah ke Yamaha mulai 2025. Langkah itu diambil sebagai bagian dari rencana jangka panjang untuk ikut serta dalam pengembangan motor pabrikan Jepang. Namun, realita di lapangan justru tidak sesuai ekspektasi.
1. Performa Yamaha YZR-M1 Belum Maksimal
Motor Yamaha YZR-M1 dengan mesin V4 terbaru belum menunjukkan peningkatan signifikan. Di Buriram, kecepatan murni dan konsistensi balapan masih jadi masalah utama. Miller dan Razgatlioglu kesulitan mengimbangi ritme pembalap di barisan depan.
2. Kurangnya Keandalan dalam Balapan Penuh
Selama musim 2025, Pramac hanya mampu mengumpulkan 125 poin dari kombinasi Miller dan Oliveira. Di musim pembuka 2026, tren negatif itu berlanjut. Kekurangan daya tahan mesin dan pengaturan motor selama balapan penuh jadi penyebab utama gagalnya strategi tim.
Perbandingan Performa Pramac: Ducati vs Yamaha
| Musim | Pembalap Utama | Poin Total | Posisi Klasemen Tim |
|---|---|---|---|
| 2024 | Jorge Martin | 403 | Juara 1 |
| 2025 | Jack Miller | 125 | Terakhir |
| 2026 | Jack Miller | 0 (sementara) | Terakhir (sementara) |
Data di atas menunjukkan perbedaan drastis performa sebelum dan sesudah pindah ke Yamaha. Dari dominasi puncak klasemen ke posisi bawah dalam waktu singkat.
Faktor-Faktor yang Memicu Kebuntuan Performa
1. Adaptasi yang Lambat terhadap Mesin V4
Mesin V4 Yamaha memang dirancang untuk menutup kesenjangan dengan Ducati dan Aprilia. Namun, adaptasi tim dan pembalap terhadap karakteristik baru mesin ini belum optimal. Pengaturan elektronik dan ergonomi motor masih jauh dari ideal.
2. Kurangnya Pengalaman Tim dengan Yamaha
Sebelumnya, Pramac hanya berpengalaman dengan motor Ducati. Beralih ke Yamaha berarti harus memahami ulang setiap aspek motor, dari pengembangan hingga pengaturan balapan. Proses ini memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan.
3. Keterbatasan Data Tes Pramusim
Hasil tes pramusim 2026 menunjukkan bahwa progres pengembangan motor masih terbatas. Simulasi balapan tidak memberikan gambaran realistis sebelum tampil di lintasan resmi. Ini membuat tim terkejut dengan performa sebenarnya di Thailand.
Reaksi dan Dampak dari Dunia MotoGP
1. Sorotan terhadap Strategi Jangka Panjang Yamaha
Fabio Quartararo sempat optimistis bahwa kehadiran Pramac bisa mempercepat pengembangan motor Yamaha. Namun, hasil di Buriram menunjukkan bahwa kolaborasi ini belum memberikan kontribusi signifikan.
2. Kontras dengan Performa Ducati
Sementara itu, Ducati terus tampil konsisten di barisan depan. Mereka bahkan mengirimkan tiga pembalap ke posisi papan atas di Thailand. Perbandingan ini memperjelas betapa dramatisnya perubahan nasib Pramac.
3. Tekanan Internal pada Manajemen Tim
Krisis performa ini tidak hanya jadi sorotan publik. Di dalam tim, tekanan untuk membuktikan keputusan pindah ke Yamaha mulai terasa. Jika tren negatif berlanjut, bisa jadi akan ada evaluasi besar-besaran terhadap arah proyek.
Apa Kata Para Ahli?
Banyak analis MotoGP menilai bahwa keputusan Pramac untuk meninggalkan Ducati terlalu prematur. Padahal, motor Desmosedici masih punya potensi besar untuk dikembangkan. Pindah ke Yamaha seharusnya didasari oleh visi jangka panjang yang lebih matang.
Tantangan ke Depan
Musim MotoGP 2026 masih panjang. Masih ada banyak balapan dan kesempatan untuk memperbaiki performa. Namun, waktu terus berjalan dan tekanan untuk menunjukkan hasil instan semakin besar.
1. Fokus pada Pengembangan Mesin
Tim harus bekerja lebih keras dalam mengembangkan mesin Yamaha agar bisa bersaing di level tertinggi. Kolaborasi erat dengan tim pabrikan jadi kunci utama.
2. Adaptasi Pembalap Baru
Toprak Razgatlioglu, sebagai rookie, masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Dukungan tim dan pengaturan motor yang tepat bisa membantunya tampil lebih percaya diri di balapan berikutnya.
3. Evaluasi Strategi Balapan
Strategi balapan yang digunakan di Thailand terbukti belum efektif. Tim perlu mengkaji ulang pendekatan mereka, baik dari segi setup motor maupun timing pit stop.
Kesimpulan
Keputusan Pramac Racing meninggalkan Ducati dan bergabung dengan Yamaha kini mulai dipertanyakan. Dari juara dunia menjadi tim papan bawah dalam waktu singkat, perjalanan Pramac jadi cerminan kerasnya persaingan di MotoGP. Tantangan ke depan tidak hanya soal performa motor, tapi juga soal manajemen, strategi, dan ketahanan mental tim.
Disclaimer: Data dan hasil balapan dalam artikel ini bersifat simulasi berdasarkan informasi hingga Maret 2026. Hasil dan kondisi aktual bisa berubah seiring perkembangan musim.