Disclaimer: Blog ini adalah media independen yang menyajikan berita seputar ekonomi, finansial, bantuan sosial, dan kebijakan publik. Blog ini tidak berafiliasi dengan PPS Universitas Islam Malang. Website resmi PPS UNISMA: https://pps.unisma.ac.id/

Bitcoin Jeblok ke $60.000, Misteri Penjual Besar dan Unwind Carry Trade Jadi Sorotan!

Bitcoin baru saja mengalami salah satu penurunan paling tajam dalam sejarahnya. Dalam waktu kurang dari seminggu, harga aset kripto paling populer ini anjlok hampir 30%, menyentuh level $60.000. Penurunan ini bukan sekadar koreksi biasa, tapi lebih mirip dengan ledakan likuiditas yang memicu panik jual di pasar global.

Tidak ada satu faktor pun yang bisa menjelaskan kejatuhan ini secara pasti. Namun, berbagai teori mulai bermunculan, dari dugaan adanya penjual besar non-kripto hingga aktivitas unwind carry trade yang memicu likuidasi berantai. Bahkan, kekhawatiran akan ancaman komputasi kuantum pun kembali mencuat. Semua ini terjadi di tengah situasi pasar yang sensitif dan penuh ketidakpastian.

Spekulasi Penjual Misterius

Salah satu narasi yang paling menarik perhatian adalah kemungkinan adanya penjual besar yang tidak biasa. Bukan trader kripto biasa, tapi entitas dengan skala sangat besar, mungkin bahkan dari luar ekosistem kripto.

Trader kripto berpengaruh, Flood, menyebut aksi jual ini sebagai yang paling “tidak pandang bulu” dalam beberapa tahun terakhir. Ia menduga bahwa penjual ini bisa berasal dari dana kedaulatan negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Rusia, atau Tiongkok.

  1. Entitas besar menjual Bitcoin dalam jumlah sangat besar.
  2. Aksi jual ini tidak terdeteksi sebelumnya oleh komunitas kripto.
  3. Likuiditas di pasar tidak mampu menyerap volume jual sebesar itu.

Franklin Bi dari Pantera Capital menambahkan bahwa penjual ini kemungkinan berasal dari Asia, dengan sedikit rekanan yang fokus pada kripto. Hal ini menjelaskan mengapa pasar tidak mendeteksi keberadaannya sebelumnya. Ia juga menyebut kemungkinan adanya leverage di Binance yang memperburuk situasi.

Baca Juga:  Kartu KKS 2026: Fungsi, Cara Aktivasi, dan Panduan Lengkap Penggunaannya

Carry Trade Unwind dan Krisis Likuiditas

Selain dugaan penjual besar, teori lain yang cukup kuat adalah adanya unwind carry trade. Ini adalah strategi di mana investor meminjam dana dengan bunga rendah (misalnya yen Jepang) untuk membeli aset berisiko yang memberikan imbal hasil lebih tinggi.

  1. Investor memanfaatkan bunga rendah untuk membeli Bitcoin.
  2. Ketika kondisi pasar berubah, mereka mulai menutup posisi.
  3. Aksi jual ini memicu likuidasi berantai dan krisis likuiditas.

Menurut Bi, urutan peristiwa ini dimulai dari penggunaan leverage, diikuti oleh unwind carry trade, krisis likuiditas, hingga upaya pemulihan yang gagal. Semua ini berujung pada aksi jual paksa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Kekhawatiran Terhadap Ancaman Kuantum

Penurunan harga Bitcoin juga memicu kembali kekhawatiran akan keamanan jangka panjangnya. Salah satu ancaman yang sering dibahas adalah komputasi kuantum, yang berpotensi meretas kriptografi yang saat ini digunakan oleh Bitcoin.

Charles Edwards dari Capriole menyebut bahwa penurunan ini mungkin akhirnya mendorong perhatian serius terhadap risiko tersebut. Ia menyatakan bahwa mungkin diperlukan penurunan lebih dalam agar tindakan nyata diambil.

  1. Bitcoin turun ke level psikologis penting.
  2. Kekhawatiran akan komputasi kuantum kembali mencuat.
  3. Perlu ada tindakan nyata dari komunitas pengembang.

Edwards juga meragukan pernyataan Michael Saylor bahwa tim keamanan Bitcoin telah disiapkan. Menurutnya, itu bisa jadi hanya “bendera palsu” untuk menenangkan pasar tanpa tindakan nyata.

Rekor Volume ETF dan Tekanan Jual Ekstrem

Aktivitas ETF Bitcoin juga mencurigakan. ETF Bitcoin spot BlackRock (IBIT) mencatat volume perdagangan harian tertinggi sepanjang masa, yaitu $10,7 miliar, pada Kamis (5/2/2026). Meski begitu, dana ini justru mengalami arus keluar bersih sebesar $175,48 juta atau sekitar 2.978 Bitcoin.

Baca Juga:  Pelabuhan Makassar Siapkan Pelayanan Khusus Jelang Mudik, Pelindo Jamin Aman dan Lancar!
Parameter Nilai
Volume perdagangan IBIT (5/2/2026) $10,7 miliar
Arus keluar bersih $175,48 juta
Jumlah Bitcoin keluar 2.978 BTC
Penurunan harga BTC dalam sehari 15%
Kisaran harga BTC sebelum dan sesudah $73.100 → $60.074

Lonjakan volume ini bukan pertanda likuiditas sehat, melainkan tekanan jual ekstrem. Banyak analis percaya bahwa ETF ini menjadi saluran likuidasi besar-besaran, bukan hanya dari investor ritel tapi juga dari pemain besar.

Dampak ke Pasar dan Sentimen Global

Penurunan tajam ini tidak hanya memengaruhi Bitcoin, tapi juga seluruh pasar aset berisiko. Altcoin mengalami tekanan lebih besar, dan sentimen pasar kembali ke level terendah sejak kejatuhan FTX.

  1. Sentimen investor menjadi sangat hati-hati.
  2. Altcoin mengalami koreksi lebih dalam.
  3. Pasar menunggu sinyal pemulihan yang jelas.

Likuiditas di berbagai bursa juga terlihat tipis, membuat volatilitas semakin tinggi. Banyak trader kini skeptis terhadap setiap rebound harga, karena belum ada indikasi kuat bahwa tekanan jual telah berakhir.

Apa Selanjutnya?

Tidak ada jawaban pasti tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, beberapa hal bisa diamati:

  1. Pasar akan terus memantau aktivitas ETF dan arus dana masuk/keluar.
  2. Sentimen investor akan sangat bergantung pada isu makroekonomi global.
  3. Perkembangan teknologi keamanan Bitcoin, terutama terkait komputasi kuantum, akan menjadi fokus utama.

Penurunan ini bisa menjadi koreksi sehat atau awal dari krisis yang lebih dalam. Yang jelas, pasar sedang menghadapi fase ketidakpastian tinggi, dan setiap langkah harus dilakukan dengan hati-hati.

Disclaimer

Data dan informasi dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan pasar. Harga aset kripto sangat volatil dan dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal. Investasi dalam aset kripto mengandung risiko tinggi. Harap selalu melakukan riset mandiri sebelum membuat keputusan investasi.

Baca Juga:  Samsung Galaxy S25 Ultra: Kapan Rilis di Indonesia? Prediksi & Fitur Terbaru!