Sepanjang tahun 2025, inflasi Indonesia berhasil dijaga dalam kisaran target Bank Indonesia. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat stabil di rentang 2,31% hingga 2,86%, jauh lebih terkendali dibandingkan lonjakan inflasi pasca-pandemi pada 2022.
Memasuki tahun 2026, pemerintah dan Bank Indonesia menetapkan target inflasi yang sama yaitu 2,5% ± 1%. Proyeksi ini cukup optimis mengingat berbagai faktor pendukung seperti stabilitas rupiah, kapasitas ekonomi yang memadai, dan sinergi kebijakan pusat-daerah.
Artikel ini akan membahas target inflasi 2026, proyeksi para ekonom, serta menyajikan data inflasi bulanan yang akan terus diupdate setiap kali BPS merilis data terbaru.
DISCLAIMER: Data inflasi 2026 akan diupdate setiap bulan setelah BPS merilis angka resmi. Terakhir diupdate: 28 Desember 2025.
Apa Itu Inflasi dan Cara Mengukurnya
Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam periode tertentu. Ketika inflasi terjadi, nilai uang menurun karena jumlah barang yang bisa dibeli dengan nominal yang sama menjadi lebih sedikit.
Cara Mengukur Inflasi:
Di Indonesia, inflasi diukur menggunakan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang dihitung oleh Badan Pusat Statistik (BPS). IHK mengukur perubahan harga sekelompok barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga di 90 kota di seluruh Indonesia.
Komponen Utama IHK Indonesia:
Makanan, minuman, dan tembakau memiliki bobot terbesar yaitu sekitar 25% dari total. Perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menyumbang sekitar 20,4%. Transportasi berkontribusi sekitar 12,4%. Sisanya terdiri dari peralatan rumah tangga, kesehatan, pendidikan, pakaian, dan kategori lainnya.
Jenis-Jenis Inflasi yang Dilaporkan:
Inflasi IHK (Headline) adalah inflasi keseluruhan yang mencakup semua komponen. Inflasi Inti adalah inflasi yang tidak memasukkan komponen harga bergejolak (volatile food) dan harga yang diatur pemerintah (administered prices). Inflasi Volatile Food adalah inflasi khusus untuk kelompok bahan makanan yang harganya sangat fluktuatif. Inflasi Administered Prices adalah inflasi untuk barang/jasa yang harganya diatur pemerintah seperti BBM dan tarif listrik.
Target Inflasi 2026 sesuai PMK 31/2024
Pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 31 Tahun 2024 telah menetapkan sasaran inflasi untuk tiga tahun ke depan:
| Tahun | Target Inflasi | Rentang |
|---|---|---|
| 2025 | 2,5% | 1,5% – 3,5% |
| 2026 | 2,5% | 1,5% – 3,5% |
| 2027 | 2,5% | 1,5% – 3,5% |
Mengapa Target 2,5% ± 1%?
Target inflasi ini ditetapkan dengan beberapa pertimbangan. Pertama, untuk menjangkar ekspektasi inflasi agar pelaku ekonomi memiliki kepastian dalam mengambil keputusan bisnis dan investasi. Kedua, untuk menjaga daya saing perekonomian Indonesia di tingkat regional dan global. Ketiga, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan tanpa tekanan harga berlebihan.
Target ini lebih rendah dibandingkan periode 2022-2024 yang berada di level 3% (2022-2023) dan 2,5% (2024). Penurunan target menunjukkan keyakinan pemerintah bahwa inflasi Indonesia bisa dijaga lebih rendah dan stabil.
Data Inflasi Bulanan 2025 (Referensi)
Sebelum melihat proyeksi 2026, berikut data inflasi bulanan sepanjang 2025 yang bisa menjadi baseline:
| Bulan | Inflasi YoY | Inflasi MoM | Inflasi Inti | Keterangan |
|---|---|---|---|---|
| Januari 2025 | 1,68% | 0,76% | 2,30% | Masih rendah pasca-Lebaran |
| Februari 2025 | 1,47% | 0,09% | 2,27% | Terendah dalam beberapa bulan |
| Maret 2025 | 1,65% | 0,44% | 2,25% | Menjelang Ramadan |
| April 2025 | 1,95% | 0,24% | 2,23% | Efek Lebaran |
| Mei 2025 | 2,06% | 0,11% | 2,20% | Normalisasi pasca-Lebaran |
| Juni 2025 | 2,18% | 0,08% | 2,18% | Stabil |
| Juli 2025 | 2,13% | 0,05% | 2,15% | Tahun ajaran baru |
| Agustus 2025 | 2,31% | 0,12% | 2,17% | Mulai naik |
| September 2025 | 2,65% | 0,21% | 2,19% | Tertinggi 16 bulan |
| Oktober 2025 | 2,86% | 0,28% | 2,36% | Tertinggi sejak April 2024 |
| November 2025 | 2,72% | 0,17% | 2,36% | Mulai melandai |
| Desember 2025 | Menunggu rilis BPS awal Januari 2026 | |||
Analisis Inflasi 2025:
Inflasi IHK sepanjang 2025 berhasil dijaga dalam sasaran 2,5% ± 1%. Kenaikan inflasi pada September-Oktober 2025 terutama disebabkan oleh kenaikan harga bahan makanan (volatile food), khususnya cabai merah, telur ayam, dan bawang merah akibat gangguan pasokan. Namun, inflasi inti tetap terjaga stabil di kisaran 2,15-2,36%, menunjukkan tekanan inflasi fundamental masih terkendali.
Proyeksi Inflasi 2026 dari BI
Bank Indonesia meyakini inflasi tahun 2026 akan tetap terjaga dalam sasaran 2,5% ± 1%. Berikut alasan optimisme tersebut:
Ekspektasi Inflasi Terjangkar
Survei menunjukkan ekspektasi inflasi masyarakat dan pelaku usaha sudah terjangkar dalam sasaran. Ketika ekspektasi terkendali, kenaikan harga cenderung tidak berlebihan karena tidak ada perilaku spekulatif.
Kapasitas Ekonomi Masih Besar
Kapasitas produksi dan pasokan barang/jasa di Indonesia masih mampu memenuhi permintaan. Artinya, pertumbuhan permintaan tidak akan menyebabkan tekanan harga yang berlebihan.
Imported Inflation Terkendali
Dengan stabilitas nilai tukar rupiah yang dijaga Bank Indonesia, inflasi yang berasal dari barang impor (imported inflation) diperkirakan tetap terkendali.
Digitalisasi Ekonomi
Perkembangan digitalisasi membantu efisiensi distribusi dan transparansi harga, sehingga menekan potensi kenaikan harga yang tidak wajar.
Sinergi Kebijakan Pusat-Daerah
Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga, terutama bahan pangan.
Faktor yang Mempengaruhi Inflasi 2026
Faktor Pendorong Inflasi (Risiko Naik):
Harga Pangan Global. Jika terjadi gangguan pasokan pangan global akibat perubahan iklim atau konflik geopolitik, harga pangan domestik bisa tertekan naik.
Harga Energi. Fluktuasi harga minyak dunia berpengaruh pada biaya transportasi dan produksi. Kebijakan harga BBM dalam negeri juga menjadi faktor penting.
El Nino atau La Nina. Fenomena cuaca ekstrem dapat mengganggu produksi pertanian dan menyebabkan lonjakan harga bahan makanan.
Permintaan Musiman. Periode Ramadan, Lebaran, Natal, dan tahun ajaran baru biasanya menyebabkan kenaikan harga musiman.
Faktor Penekan Inflasi (Potensi Turun):
Stabilitas Rupiah. Jika rupiah stabil atau menguat, harga barang impor tidak akan naik signifikan.
Kebijakan Suku Bunga. BI Rate yang relatif rendah mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa menyebabkan overheating.
Pasokan Pangan Memadai. Program ketahanan pangan pemerintah diharapkan menjaga ketersediaan bahan pangan.
Efisiensi Distribusi. Perbaikan infrastruktur dan logistik membantu menekan biaya distribusi.
Dampak Inflasi untuk Masyarakat
Dampak Inflasi Rendah (1,5-2,5%):
Daya beli masyarakat relatif stabil karena kenaikan harga tidak terlalu signifikan. Suku bunga cenderung rendah sehingga kredit lebih terjangkau. Investasi dan pertumbuhan ekonomi bisa berjalan optimal. Upah riil pekerja tidak tergerus inflasi.
Dampak Inflasi Sedang (2,5-3,5%):
Kenaikan harga mulai terasa terutama untuk bahan pokok. Masyarakat berpenghasilan tetap perlu menyesuaikan pengeluaran. Tabungan dengan bunga rendah bisa tergerus nilai riilnya. Pelaku usaha mungkin menaikkan harga produk/jasa.
Tips Menghadapi Inflasi:
Alokasikan dana darurat minimal 3-6 bulan pengeluaran. Diversifikasi investasi ke instrumen yang bisa mengalahkan inflasi seperti saham, reksa dana, atau emas. Bandingkan harga sebelum membeli dan manfaatkan promo. Tingkatkan skill untuk meningkatkan penghasilan.
Cara Memantau Inflasi Terbaru
Untuk memantau data inflasi terbaru, Anda bisa mengakses beberapa sumber resmi:
Badan Pusat Statistik (BPS)
BPS merilis data inflasi bulanan setiap awal bulan (biasanya tanggal 1-5). Data mencakup inflasi IHK, inflasi inti, volatile food, dan administered prices.
Cara Akses: Kunjungi bps.go.id, pilih menu “Statistik”, lalu “Ekonomi dan Perdagangan”, kemudian “Inflasi”.
Bank Indonesia (BI)
BI menyajikan data inflasi dalam konteks kebijakan moneter, termasuk analisis dan proyeksi. Data juga tersedia dalam hasil Rapat Dewan Gubernur setiap bulan.
Cara Akses: Kunjungi bi.go.id, pilih menu “Statistik”, lalu “Indikator”, kemudian “Inflasi”.
Jadwal Rilis Data Inflasi 2026:
Data inflasi bulanan biasanya dirilis pada tanggal 1-5 setiap bulan untuk periode bulan sebelumnya. Misalnya, data inflasi Januari 2026 akan dirilis pada awal Februari 2026.
Link Resmi BPS dan BI
Untuk informasi resmi dan akurat, akses hanya melalui website berikut:
Badan Pusat Statistik:
Website: bps.go.id
Data Inflasi: bps.go.id/subject/3/inflasi.html
Bank Indonesia:
Website: bi.go.id
Target Inflasi: bi.go.id/id/statistik/indikator/target-inflasi.aspx
Data Moneter: bi.go.id/id/statistik/indikator
Kementerian Keuangan:
Website: kemenkeu.go.id
JDIH (Peraturan): jdih.kemenkeu.go.id
Tips Keamanan:
Pastikan alamat website berakhiran .go.id untuk website resmi pemerintah. Hindari sumber informasi dari website tidak resmi atau media sosial yang tidak terverifikasi. Data inflasi yang valid hanya bersumber dari BPS sebagai lembaga statistik resmi.
Penutup
Inflasi Indonesia 2026 diproyeksikan tetap terkendali dalam sasaran 2,5% ± 1% sesuai target yang ditetapkan pemerintah melalui PMK 31/2024. Dengan inflasi 2025 yang berhasil dijaga dalam kisaran target, optimisme untuk tahun 2026 cukup beralasan.
Namun, tetap ada risiko yang perlu diwaspadai seperti fluktuasi harga pangan dan energi global, serta dampak perubahan iklim terhadap produksi pertanian. Sinergi kebijakan Bank Indonesia dan pemerintah melalui TPIP/TPID menjadi kunci untuk menjaga stabilitas harga.
Artikel ini akan terus diupdate setiap bulan seiring dengan rilis data inflasi terbaru dari BPS. Bookmark halaman ini untuk mendapatkan informasi inflasi Indonesia yang selalu terkini!